Sabtu, 23 Februari 2019

Agribisnis Peternakan


Peran Dan Fungsi Agribisnis Dalam Perekonomian Nasional

Peran Pertanian :


1. Sebagai produsen bahan pangan dan serat
2. Sebagai produsen bahan baku industri
3. Sebagai pasar potensial
4. Sebagai penyerap tebaga kerja
5. Sebagai sumber perolehan devisa
6. Mengurangi kemiskinan
7. Pelestarian lingkungan

Pertanian adalah unit produksi biologis primer berbasis lahan. Output utama pertanian adalah bahan pangan dan serat. Pertanian dikembangkan sebagai pemasok sumber bioenergi. Kendala yang dihadapi oleh pertanian adalah keterbatasan lahan.

Masalah Pertanian :
Respon Input-input :
1. Lahan VS Tenaga kerja
2. Lahan VS Pupuk, Pestisida
3. Lahan VS Irigasi
4. Lahan VS Elemen Klimatologi biodiversitas
Respon Output-output :
1. Lahan VS Pilihan komoditas
2. Lahan VS Pilihan alternatif fungsi
Respon Input-Output :
1. Multiple Effect

Penyerapan tenaga kerja
Penyerapan sektor pertanian
1. Tidak memerlukan kualifikasi keterampilan khusus dan lavel pendidikan formal tertentu
2. Signifikan dalam jumlah
3. Dipegaruhi oleh man-land ratio

Kontribusi terhadap GDP
Proporsi suatu sektor terhadap total PDB merupakan alat ukur peran sektor tersebut dalam perekonomian suatu negara. Semakin besar proporsi PDB suatu sektor terhadap total PDB menunjukkan semakin besarnya dominasi sektor tersebut tehadap penciptaan pendapatan negara.

Pada 2016 perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan angka pertumbuhan pada 2015 (4,8 persen).18 Pada kuartal kedua pada 2017, perekonomian mengalami pertumbuhan sebesar 5 persen, sehingga masih sama dengan perkiraan saat ini. Namun beberapa perkiraan menunjukkan bahwa angka pertumbuhan tahunan pada 2017 akan sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 dan mungkin akan lebih tinggi lagi pada 2018.19 Didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat, pertumbuhan PDB diperkirakan mencapai 6 persen pada 2020.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif disebabkan baik oleh faktor eksternal maupun internal. Pertama, perekonomian global pada akhirnya menunjukkan peningkatan. Kedua, harga komoditas mengalami peningkatan di mana bagi negara yang kaya akan sumber daya seperti Indonesia, hal ini dapat mendorong ekspor. Indonesia merupakan produsen minyak sawit mentah dan batu bara thermal terbesar di dunia. Ekspor komoditas utama lainnya termasuk gas, minyak mentah dan karet. Ketiga, pemerintah Indonesia telah meluncurkan serangkaian reformasi atau “paket ekonomi” untuk mengatasi hambatan peraturan dan menarik investasi swasta. Pendanaan pemerintah untuk infrastruktur juga diprioritaskan dan terus meningkat di masa yang akan datang.

Dari sisi makro ekonomi, inflasi yang rendah dan kebijakan moneter akomodatif yang mendukung pertumbuhan akan terus mendorong permintaan dalam negeri. Selama beberapa tahun belakangan konsumsi rumah tangga telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Antara tahun 2010 hingga 2016 proporsi konsumsi rumah tangga rata-rata 50 persen dari PDB. Belanja pemerintah dan formasi modal tetap bruto rata-rata sekitar 9 persen dan 32 persen dari PDB.



Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan

Antara tahun 1990 dan 2016, proporsi pertanian menurun dari 21,5 persen menjadi 13,4 persen. Di luar periode 1997 hingga 1999, proporsi kontribusi sektor pertanian pada perekonomian menurun secara terus-menerus.26 Pada periode ini kontribusi dari sektor industri hampir tidak mengalami perubahan. Perbandingan antara pertumbuhan ketenagakerjaan dan nilai tambah oleh berbagai sektor menunjukkan hubungan yang biasanya terlihat pada perekonomian yang mengalami industrialisasi.

Kendati lebih lamban dari sektor lainnya, pertanian terus mengalami pertumbuhan namun pertumbuhan ketenagakerjaan di sektor pertanian berjalan lamban atau bahkan negatif. Di dalam Gambar 5 kita bisa melihat garis tren untuk pertanian dan pertumbuhan ketenagakerjaan tidak memiliki hubungan yang positif. Ini konsisten dengan transformasi struktural di mana jumlah tenaga kerja “tambahan” bergerak dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa.

Di sisi lain, hubungan antara pertumbuhan hasil (output) dan pertumbuhan ketenagakerjaan di sektor industri secara umum atau manufaktur pada khususnya lebih positif. Peningkatan tajam pada pertumbuhan ketenagakerjaan di sektor pertanian pada 1998 dan penurunan tajam pada sektor industri (termasuk manufaktur) dan keluaran sektor jasa merupakan akibat dari krisis keuangan Asia yang mendatangkan dampak yang cukup berat terhadap dua sektor di daerah perkotaan di pulau Jawa. Pertanian tidak terlalu terpengaruhi. Bahkan, karena besarnya jumlah pekerjaan yang hilang di sektor industri dan jasa, banyak pekerja yang beralih ke sektor pertanian untuk mendapatkan penghidupan.

Berikutnya, kita akan lihat hasil dan pertumbuhan ketenagakerjaan dalam sektor-sektor perekonomian pada beberapa periode waktu antara tahun 1990 dan 2016. Sekali lagi, di luar periode 1997-2002, pertumbuhan tenaga kerja sektor pertanian di seluruh periode terpilih adalah negatif. Pada periode terakhir (2009-2016), hasil sektor pertanian bertumbuh 30 persen, yang tercepat sejak tahun 1990 namun jumlah orang yang bekerja di sektor ini menurun sebanyak 9 persen.

Pertumbuhan ketenagakerjaan secara positif merespons perubahan dalam pertumbuhan hasil industri, manufaktur dan jasa. Sepertinya elastisitas tenaga kerja terhadap pertumbuhan dalam sektor industri meningkat dalam lima tahun terakhir (2009-2016). Pada periode 1990-1996, untuk setiap 1 persen peningkatan dalam hasil industri, pertumbuhan ketenagakerjaan meningkat sebesar 0,71 persen. Antara tahun 2009 dan 2016, untuk setiap 1 persen pertumbuhan di hasil industri, pertumbuhan ketenagakerjaan meningkat sebesar 0,79 persen.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar