Peran Dan Fungsi
Agribisnis Dalam Perekonomian Nasional
Peran Pertanian :
1. Sebagai produsen bahan pangan dan serat
2. Sebagai produsen bahan baku industri
3. Sebagai pasar potensial
4. Sebagai penyerap tebaga kerja
5. Sebagai sumber perolehan devisa
6. Mengurangi kemiskinan
7. Pelestarian lingkungan
Pertanian adalah unit produksi biologis primer berbasis
lahan. Output utama pertanian adalah bahan pangan dan serat. Pertanian
dikembangkan sebagai pemasok sumber bioenergi. Kendala yang dihadapi oleh
pertanian adalah keterbatasan lahan.
Masalah Pertanian :
Respon Input-input :
1. Lahan VS Tenaga kerja
2. Lahan VS Pupuk, Pestisida
3. Lahan VS Irigasi
4. Lahan VS Elemen Klimatologi biodiversitas
Respon Output-output :
1. Lahan VS Pilihan komoditas
2. Lahan VS Pilihan alternatif fungsi
Respon Input-Output :
1. Multiple Effect
Penyerapan tenaga kerja
Penyerapan sektor pertanian
1. Tidak memerlukan kualifikasi keterampilan khusus dan
lavel pendidikan formal tertentu
2. Signifikan dalam jumlah
3. Dipegaruhi oleh man-land ratio
Kontribusi terhadap GDP
Proporsi suatu sektor terhadap total PDB merupakan alat
ukur peran sektor tersebut dalam perekonomian suatu negara. Semakin besar
proporsi PDB suatu sektor terhadap total PDB menunjukkan semakin besarnya dominasi
sektor tersebut tehadap penciptaan pendapatan negara.
Pada 2016 perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5 persen,
sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan angka pertumbuhan pada 2015 (4,8
persen).18 Pada kuartal kedua pada 2017, perekonomian mengalami pertumbuhan
sebesar 5 persen, sehingga masih sama dengan perkiraan saat ini. Namun beberapa
perkiraan menunjukkan bahwa angka pertumbuhan tahunan pada 2017 akan sedikit
lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 dan mungkin akan lebih tinggi lagi pada
2018.19 Didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat,
pertumbuhan PDB diperkirakan mencapai 6 persen pada 2020.
Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif
disebabkan baik oleh faktor eksternal maupun internal. Pertama, perekonomian
global pada akhirnya menunjukkan peningkatan. Kedua, harga komoditas mengalami
peningkatan di mana bagi negara yang kaya akan sumber daya seperti Indonesia,
hal ini dapat mendorong ekspor. Indonesia merupakan produsen minyak sawit
mentah dan batu bara thermal terbesar di dunia. Ekspor komoditas utama lainnya
termasuk gas, minyak mentah dan karet. Ketiga, pemerintah Indonesia telah
meluncurkan serangkaian reformasi atau “paket ekonomi” untuk mengatasi hambatan
peraturan dan menarik investasi swasta. Pendanaan pemerintah untuk
infrastruktur juga diprioritaskan dan terus meningkat di masa yang akan datang.
Dari sisi makro ekonomi, inflasi yang rendah dan
kebijakan moneter akomodatif yang mendukung pertumbuhan akan terus mendorong
permintaan dalam negeri. Selama beberapa tahun belakangan konsumsi rumah tangga
telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Antara tahun 2010 hingga
2016 proporsi konsumsi rumah tangga rata-rata 50 persen dari PDB. Belanja
pemerintah dan formasi modal tetap bruto rata-rata sekitar 9 persen dan 32
persen dari PDB.
Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan
Antara tahun 1990 dan 2016, proporsi pertanian menurun
dari 21,5 persen menjadi 13,4 persen. Di luar periode 1997 hingga 1999,
proporsi kontribusi sektor pertanian pada perekonomian menurun secara
terus-menerus.26 Pada periode ini kontribusi dari sektor industri hampir tidak
mengalami perubahan. Perbandingan antara pertumbuhan ketenagakerjaan dan nilai
tambah oleh berbagai sektor menunjukkan hubungan yang biasanya terlihat pada perekonomian
yang mengalami industrialisasi.
Kendati lebih lamban dari sektor lainnya, pertanian terus
mengalami pertumbuhan namun pertumbuhan ketenagakerjaan di sektor pertanian
berjalan lamban atau bahkan negatif. Di dalam Gambar 5 kita bisa melihat garis
tren untuk pertanian dan pertumbuhan ketenagakerjaan tidak memiliki hubungan
yang positif. Ini konsisten dengan transformasi struktural di mana jumlah
tenaga kerja “tambahan” bergerak dari sektor pertanian ke sektor industri dan
jasa.
Di sisi lain, hubungan antara pertumbuhan hasil (output)
dan pertumbuhan ketenagakerjaan di sektor industri secara umum atau manufaktur
pada khususnya lebih positif. Peningkatan tajam pada pertumbuhan
ketenagakerjaan di sektor pertanian pada 1998 dan penurunan tajam pada sektor
industri (termasuk manufaktur) dan keluaran sektor jasa merupakan akibat dari
krisis keuangan Asia yang mendatangkan dampak yang cukup berat terhadap dua
sektor di daerah perkotaan di pulau Jawa. Pertanian tidak terlalu terpengaruhi.
Bahkan, karena besarnya jumlah pekerjaan yang hilang di sektor industri dan
jasa, banyak pekerja yang beralih ke sektor pertanian untuk mendapatkan
penghidupan.
Berikutnya, kita akan lihat hasil dan pertumbuhan
ketenagakerjaan dalam sektor-sektor perekonomian pada beberapa periode waktu
antara tahun 1990 dan 2016. Sekali lagi, di luar periode 1997-2002, pertumbuhan
tenaga kerja sektor pertanian di seluruh periode terpilih adalah negatif. Pada
periode terakhir (2009-2016), hasil sektor pertanian bertumbuh 30 persen, yang
tercepat sejak tahun 1990 namun jumlah orang yang bekerja di sektor ini menurun
sebanyak 9 persen.
Pertumbuhan ketenagakerjaan secara positif merespons
perubahan dalam pertumbuhan hasil industri, manufaktur dan jasa. Sepertinya
elastisitas tenaga kerja terhadap pertumbuhan dalam sektor industri meningkat
dalam lima tahun terakhir (2009-2016). Pada periode 1990-1996, untuk setiap 1
persen peningkatan dalam hasil industri, pertumbuhan ketenagakerjaan meningkat
sebesar 0,71 persen. Antara tahun 2009 dan 2016, untuk setiap 1 persen
pertumbuhan di hasil industri, pertumbuhan ketenagakerjaan meningkat sebesar 0,79
persen.