Dalam arti luas : Mencangkup semua kegiatan pertanian, tanaman pangan, tanaman holtikultura, perkebunan dan peternakan.
·
Pertanian :
Tanaman pangan, hltikultura, florakultura, dll.
·
Perkebunan :
Rakyat dan perusahaan.
·
Kehutanan : Produk
dari hutan seperti kayu dan rotan.
·
Perikanan :
Perikanan darat dan laut.
·
Peternakan :
budidaya tenak kecil atau besar, ruminansia dan non ruminansia.
Dalam arti sempit : Suatu kegiatan budidaya pertanian
untuk mencukupi kebutuhan manusia.
Agribisnis
Merupakan usaha komersil dalam bidang
perdagangan yang mencangkup komoditas pertanian.
Revolusi Industri 4.0
Merupakan era revolusi industri yang ke-empat, ditandai dengan
penggunaan mesin-mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet.
Revolusi Industri 4.0 dalam sektor
pertanian
Adanya revolusi industri yang
ke-empat, diharapkan proses usaha tani dapat menjadi efisien, sehingga terjadi
efisiensi produktivitas dan daya saing. Adanya model dan inovasi baru seperti
pertanian pertanian presisi, pertanian vertikal, pertanian pintar. Data besar,
sensor dan drone, alat analisis, internet pertanian dan otomatis alsintan
adalah beberapa teknologi yang mendukung industri 4.0. Pemanfaatan internet of
thing dalam internet pertanian adalah untuk meng-connect benda-benda sekitar
dengan internet melalui smartphone maupun gadget lainnya.
Agribisnis Peternakan
Sebuah sistem pengelolaan ternak
secara terpadu dan menyeluruh yang meliputi semua kegiatan mulai dari pembuatan
dan distribusi sarana produksi ternak, kegiatan usaha produksi, penyimpanan dan
pengolahan, serta penyaluran dan pemasaran produk peternakan yang didukung oleh
lembaga penunjang sperti perbankan dan kebijakan pemerintah.
Perkembangan Ekspor Impor Daging Ayam
Di Indonesia Tahun 2012- 2016
Data ekspor dan impor berdasarkan
ketersediaan data dari Badan Pusat Statistik yang diperoleh melalui sistem
pencatatan statistik yang berasal dari kepabeanan ekspor dan impor bea cukai
serta sumber instansi lain, PT Pos dan survei ekspor perbatasan laut. Data ekspor dan impor daging ayam beserta
nilainya selama periode 2012-2016 menunjukkan volume impor cukup tinggi
dibandingkan volume ekspor, sehingga dapat dijelaskan neraca perdagangan daging
ayam khususnya selama periode tahun 2012-2016 menunjukkan neraca defisit.
Data volume ekspor 2012-2016 meliputi
bibit ayam/ Gallus Domesticus hidup/Guinea hidup dan daging ayam Gallus
domesticus. Pada tahun 2015 menunjukkan ekspor daging ayam meningkat fantastis
sebesar 4.977,50% atau dari sebesar 160 kg menjadi 8,12 ribu kg. Sementara di
Tahun 2016 (data sampai dengan Juli) meningkat 5,24% atau sebesar 8,55 ribu
kg.Berdasarkan deskripsi Kode Hs volume ekspor didominasi bentuk daging ayam rata-rata sebesar 3,30
ribu kg, ayam hidup (ayam Gallus Domesticus dengan berat lebih dari 185 gram) sebesar 971 kg. Kenaikan
volume ekspor kenaikan tertinggi pada tahun 2016 sudah mencapai peningkatan 96,77% sedangkan
menurut data tahun 2015 terhadap 2014 peningkatan mencapai 3.296%. Sumbangan
devisa negara pada tahun 2016 dari nilai ekspor meningkat sebesar 4,94% dimana
tahun sebelumnya turun 62,26% (Tahun 2015 terhadap 2014). Kenaikan nilai ekspor
tahun 2016 sebesar 89,87% atau absolut sebesar 61,40 (000 US$) atau meningkat
dari 68,32 (000 US$) menjadi 129,72(000
US$.
Volume impor daging ayam dalam negeri berfluktuasi dikarenakan ketergantungan negara kita pada indukan ( Grand Parent Stock/GPS) yang berasal dari negara lain. Negara pengimpor terbesar di tahun 2015 yaitu Tanzania sebesar 4,30 ribu kg, Perancis 1,71 ribu kg dan Netherland 1,66 ribu kg. Periode 5 tahun terakhir, impor ayam tertinggi tahun 2014 mencapai 1,124 juta kg, peningkatan volume dari tahun sebelumnya mencapai 142% yang hanya berkisar 100 ribu kg hingga 460 ribu kg, tahun berikutnya kembali normal sekitar 420 hingga 440 ribu kg. Selain impor dalam bentuk bibit, volume impor kita didominasi komoditi jenis daging ayam dimana pada tahun 2014 merupakan puncak tertinggi selama 5 tahun terakhir mencapai 1,12 juta kg atau 1,123 ribu ton. Secara detail dapat dilihat pada tabel 3.5.
Impor ayam menyerap devisa anggaran
dalam negeri rata-rata 2.162 (000 US$) per tahun. Kontribusi nilai terbesar
berasal dari jenis daging ayam mencapai rata-rata 1.296 (000 US$) per tahun dan
bibit sebesar 862 (000 US$). Nilai impor tertinggi pada tahun 2015 berasal dari
bibit sebesar 2.823 (000 US$) dan daging ayam 1.154 (000 US$). Diperkirakan
stok bibit/ ayam Gallus Domesticus hidup ukuran kurang atau sama dengan 185 gr
pada tahun tersebut menyebabkan over stock bibit ayam Grand Parent stock (GPS)
Parent Stock (PS) dalam negeri sehingga diberlakukan afkir dini atau
pengurangan bibit.
Perkembangan volume dan nilai ekspor
impor daging ayam (unggas) di Indonesia pada periode 2012 sampai dengan 2016.
Sumber :
Pusat Data Dan Sistem Informasi Pertanian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar