Minggu, 17 Februari 2019

Agribisnis Peternakan

Pertanian
Dalam arti luas : Mencangkup semua kegiatan pertanian, tanaman pangan, tanaman holtikultura, perkebunan dan peternakan.

·         Pertanian        : Tanaman pangan, hltikultura, florakultura, dll.
·         Perkebunan    : Rakyat dan perusahaan.
·         Kehutanan      : Produk dari hutan seperti kayu dan rotan.
·         Perikanan       : Perikanan darat dan laut.
·         Peternakan     : budidaya tenak kecil atau besar, ruminansia dan non ruminansia.
    Dalam arti sempit : Suatu kegiatan budidaya pertanian untuk mencukupi kebutuhan manusia.
      
      Agribisnis
Merupakan usaha komersil dalam bidang perdagangan yang mencangkup komoditas pertanian.

Revolusi Industri 4.0
Merupakan era revolusi industri yang ke-empat, ditandai dengan penggunaan mesin-mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet.

Revolusi Industri 4.0 dalam sektor pertanian
Adanya revolusi industri yang ke-empat, diharapkan proses usaha tani dapat menjadi efisien, sehingga terjadi efisiensi produktivitas dan daya saing. Adanya model dan inovasi baru seperti pertanian pertanian presisi, pertanian vertikal, pertanian pintar. Data besar, sensor dan drone, alat analisis, internet pertanian dan otomatis alsintan adalah beberapa teknologi yang mendukung industri 4.0. Pemanfaatan internet of thing dalam internet pertanian adalah untuk meng-connect benda-benda sekitar dengan internet melalui smartphone maupun gadget lainnya.

Agribisnis Peternakan
Sebuah sistem pengelolaan ternak secara terpadu dan menyeluruh yang meliputi semua kegiatan mulai dari pembuatan dan distribusi sarana produksi ternak, kegiatan usaha produksi, penyimpanan dan pengolahan, serta penyaluran dan pemasaran produk peternakan yang didukung oleh lembaga penunjang sperti perbankan dan kebijakan pemerintah.

Perkembangan Ekspor Impor Daging Ayam Di Indonesia Tahun 2012- 2016
Data ekspor dan impor berdasarkan ketersediaan data dari Badan Pusat Statistik yang diperoleh melalui sistem pencatatan statistik yang berasal dari kepabeanan ekspor dan impor bea cukai serta sumber instansi lain, PT Pos dan survei ekspor perbatasan laut.  Data ekspor dan impor daging ayam beserta nilainya selama periode 2012-2016 menunjukkan volume impor cukup tinggi dibandingkan volume ekspor, sehingga dapat dijelaskan neraca perdagangan daging ayam khususnya selama periode tahun 2012-2016 menunjukkan neraca defisit.

Data volume ekspor 2012-2016 meliputi bibit ayam/ Gallus Domesticus hidup/Guinea hidup dan daging ayam Gallus domesticus. Pada tahun 2015 menunjukkan ekspor daging ayam meningkat fantastis sebesar 4.977,50% atau dari sebesar 160 kg menjadi 8,12 ribu kg. Sementara di Tahun 2016 (data sampai dengan Juli) meningkat 5,24% atau sebesar 8,55 ribu kg.Berdasarkan deskripsi Kode Hs volume ekspor didominasi  bentuk daging ayam rata-rata sebesar 3,30 ribu kg, ayam hidup (ayam Gallus Domesticus dengan berat lebih  dari 185 gram) sebesar 971 kg. Kenaikan volume ekspor kenaikan tertinggi pada tahun 2016  sudah mencapai peningkatan 96,77% sedangkan menurut data tahun 2015 terhadap 2014 peningkatan mencapai 3.296%. Sumbangan devisa negara pada tahun 2016 dari nilai ekspor meningkat sebesar 4,94% dimana tahun sebelumnya turun 62,26% (Tahun 2015 terhadap 2014). Kenaikan nilai ekspor tahun 2016 sebesar 89,87% atau absolut sebesar 61,40 (000 US$) atau meningkat dari 68,32  (000 US$) menjadi 129,72(000 US$.

Volume impor daging ayam dalam negeri berfluktuasi  dikarenakan ketergantungan negara kita pada indukan ( Grand Parent Stock/GPS) yang berasal dari negara lain. Negara pengimpor terbesar di tahun 2015 yaitu  Tanzania sebesar 4,30 ribu kg, Perancis 1,71 ribu kg dan Netherland 1,66 ribu kg. Periode 5 tahun terakhir,  impor ayam tertinggi tahun 2014 mencapai  1,124 juta kg, peningkatan volume dari tahun sebelumnya mencapai 142% yang hanya berkisar 100 ribu kg hingga 460 ribu kg, tahun berikutnya kembali normal sekitar 420 hingga 440 ribu kg. Selain impor dalam bentuk bibit,  volume impor kita didominasi komoditi jenis daging ayam dimana pada tahun 2014 merupakan puncak tertinggi selama 5 tahun terakhir mencapai 1,12 juta kg atau 1,123 ribu ton. Secara detail dapat dilihat pada tabel 3.5.


Impor ayam menyerap devisa anggaran dalam negeri rata-rata 2.162 (000 US$) per tahun. Kontribusi nilai terbesar berasal dari jenis daging ayam mencapai rata-rata 1.296 (000 US$) per tahun dan bibit sebesar 862 (000 US$). Nilai impor tertinggi pada tahun 2015 berasal dari bibit sebesar 2.823 (000 US$) dan daging ayam 1.154 (000 US$). Diperkirakan stok bibit/ ayam Gallus Domesticus hidup ukuran kurang atau sama dengan 185 gr pada tahun tersebut menyebabkan over stock bibit ayam Grand Parent stock (GPS) Parent Stock (PS) dalam negeri sehingga diberlakukan afkir dini atau pengurangan bibit.

Perkembangan volume dan nilai ekspor impor daging ayam (unggas) di Indonesia pada periode 2012 sampai dengan 2016.

 

Sumber :
Pusat Data Dan Sistem Informasi Pertanian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar