Kenapa kegiatan bisnis perlu beretika?
Sudah menjadi fitrah manusia saling
melengkapi dan memenuhi kebutuhannya. Hubungan saling membutuhkan sudah menjadi
kebutuhan diri manusia sejak lahir. Nilai-nilai luhur manusia adalah kejujuran
dalam setiap tindakannya. Etika menjadi landasan dalam setiap tindakan dan
tingkah laku manusia.
Dalam hubungan saling memenuhi
kebutuhan antar manusia tersebut akan menumbuhkan suatu kegiatan yang dinamakan
bisnis. Bisnis merupakan suatu tindakan membuat atau menciptakan benda atau
sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia yang mana dari proses tersebut akan
menimbulkan keuntungan baik untuk produsen maupun konsumen. Hubungan saling
menguntungkan tersebut akan tetap berjalan jika kedua belah pihak menyadari adanya
aturan yang tidak tertulis yaitu etika. Mengapa demikian, karena etika adalah
landasan tindakan manusia, sehingga jika kedua pihak sama-sama menjalankan
etika maka hubungan tersebut akan dimungkinkan berlanjut, namun sebaliknya jika
ada salah satu saja pihak yang mengingkarinya, maka akan sulit untuk
keberlangsungan hubungannya.
Etika bisnis lebih luas dari
ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi
dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan bisnis
seringkali kita temukan transaksi dan kegiatan yang tidak diatur oleh ketentuan
hokum.
jadi bisnis tidak hanya
bertujuan untuk profit semata, tapi juga perlu mempertimbangkan nilai-nilai
manusiawi, sehingga masyarakat pun berkepentinan agar bisnis dilaksanakan secara etis.
Bisnis dilakukan diantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, sehingga membutuhkan etika sebagai
pedoman dan orientasi bagi pengambilan keputusan, kegiatan, dan tindak tanduk manusia dalam
berhubungan (bisnis) satu dengan
lainnya.
Bisnis saat ini dilakukan dalam persaingan yang sangat ketat, maka
dalam persaingan bisnis tersebut, orang yang bersaing dengan tetap memperhatikan norma-norma etis pada iklim yang
semakin profesional justru akan menang.
Bagaimana berbisnis secara etis?
Dalam menciptakan etika bisnis, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah:
Pengendalian diri.
Para pelaku bisnis dan pihak yang
terkait mampu mengendalikan diri mereka masing masing untuk tidak memperoleh
apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis
sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak
lain dan menggunakan keuntungan dengan jalan main curang dan menakan pihak lain
dan menggunakan keuntungan tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi
pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat
sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etis".
Pengembangan tanggung jawab sosial
(social responsibility).
Pelaku bisnis dituntut untuk peduli
dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan
jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai
contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat
harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan
kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk
meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku
bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab
terhadap masyarakat sekitarnya.
Mempertahankan jati diri dan tidak
mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi.
Bukan berarti etika bisnis anti
perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus
dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak
kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan
teknologi.
Menciptakan persaingan yang sehat.
Persaingan dalam dunia bisnis perlu
untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak
mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara
pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan
perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap
perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada
kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut.
Menerapkan konsep “pembangunan
berkelanjutan".
Dunia bisnis seharusnya tidak
memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan
bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis
dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang
semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang
walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.
Menghindari sifat 5K (Katabelece,
Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi).
Jika pelaku bisnis sudah mampu
menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang
dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam
dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.
Mampu menyatakan yang benar itu
benar.
Kalau pelaku bisnis itu memang tidak
wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa
dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi"
serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan
memaksa diri untuk mengadakan “kolusi" serta memberikan "komisi"
kepada pihak yang terkait.
Menumbuhkan sikap saling percaya
antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah. Untuk
menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada saling percaya
(trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar
pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah
besar dan mapan.
Konsekuen dan konsisten dengan
aturan main yang telah disepakati bersama.
Semua konsep etika bisnis yang telah
ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen
dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis
telah disepakati, sementara ada "oknum", baik pengusaha sendiri
maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi
kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur"
satu semi satu.
Menumbuhkembangkan kesadaran dan
rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati.
Jika etika ini telah memiliki oleh
semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam
berbisnis.
Perlu adanya sebagian etika bisnis
yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang berupa peraturan
perundang-undangan.
Hal ini untuk menjamin kepastian
hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap
pengusaha lemah.
Sumber :
https://sasjend.wordpress.com/2012/06/19/mengapa-bisnis-harus-beretika/ diakses pada tanggal 9 maret 2018
http://faisalmaulana09.blogspot.co.id/2015/02/mengapa-bisnis-perlu-beretika.html diakses pada tanggal 9 maret 2018
http://andisarahmimaulina.blogspot.co.id/2010/11/menjalankan-bisnis-secara-etis-dan.html
diakses pada tanggal 9 maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar